 |
SATRIO PININGIT; Menanti Sosok Ratu Adil Menuju Zaman Keemasan Nusantara
Rp 49.900
PEMESANAN
085756777030
| Judul |
SATRIO PININGIT; Menanti Sosok Ratu Adil Menuju Zaman Keemasan Nusantara
|
| No. ISBN |
9789791683821
|
| Penulis | Djoko Su'ud Sukahar |
| Penerbit | Narasi |
| Tanggal terbit | April 2014 |
| Jumlah Halaman |
|
| Berat Buku |
|
| Jenis Cover | Soft Cover |
| Dimensi(L x P) |
|
| Kategori | Seri Ramalan Sang Pujangga Nusantara |
| Bonus | - |
| Text Bahasa | Indonesia |
|
Sinopsis
Sebagian masyarakat
Indonesia meyakini bahwa "Ratu Adil" atau Satrio Piningit ialah sosok
pemimpin yang mampu membawa Nusantara atau Bangsa Indonesia menuju negara yang
gemah ripah loh jinawi toto tentrem kertoraharjo (kaya sumber daya alam dan
subur, aman, tentram, dan sejahtera). Bung Karno Sang Proklamator Bangsa
Indonesia pun di suatu kesempatan pernah menyatakan bahwa, kelak suatu saat
nanti Bangsa Indonesia akan dipimpin oleh seorang "Ratu Adil" atau
Satrio Piningit yang mampu membawa Bangsa Indonesia menuju zaman keemasan.
"Tuan-tuan
Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya
"Ratu Adil". Apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini
masih terus menyalakan harapan rakyat? Tak lain ialah karena hati rakyat yang
menangis itu tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan, datangnya
pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan tak berhenti-berhentinya
menunggu-nunggu dan mengharap-harap. "Kapan, kapankah matahari
terbit?" (Soekarno, 1930), dalam bukunya Indonesia Menggugat.
Bila
mengikuti alur ramalan Prabu Sri Jayabaya tentang keadaan Nusantara, di suatu
masa di masa datang, akan ada suatu masa yang penuh bencana. Gunung-gunung akan
meletus, bumi berguncang-guncang, laut dan sungai akan meluap. Ini akan menjadi
masa penuh penderitaan. Masa kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian. Masa
orang-orang licik berkuasa, dan orang-orang baik akan tertindas.
Tetapi,
setelah masa yang paling berat itu akan datang zaman baru. Zaman yang penuh
kemegahan dan kemuliaan. Zaman keemasan nusantara. Dan, zaman baru itu akan
datang setelah datangnya sang "Ratu Adil" atau Satrio Piningit.
Banyaknya
berbagai bencana dan persoalan bangsa Indonesia yang datang dan pergi silih
berganti apakah pertanda bahwa bangsa Indonesia tengah memasuki suatu masa yang
disebut zaman "Kala Bendhu". Suatu zaman yang digambarkan dengan
kekacauan dan pengrusakan yang demikian dahsyat. Kedahsyatan itu sering pula
dinamakan dengan masa "Goro-goro" yang digambarkan dengan "bumi
gonjang-ganjing langit kelap-kelap", bumi mengalami kegoncangan yang
dahsyat hingga langit menjadi tergetar.
Suatu
masa yang disebut zaman "Kala Bendhu" atau "Goro-goro" ini
sebagai awal akan datangnya suatu zaman keemasan dengan datangnya seorang
pemimpin yang disebut "Ratu Adil" atau Satrio Piningit. Membawa Bumi
Nuswantoro atau Musantara ke masa kejayaan, di mana kebenaran akan jaya:
"suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti" atau "semua
angkara murka atau tindak kejahatan akan kalah dengan keluhuran budi", dan
dalam terminologi Islam disebut: "idza jaal haqqu wazahaqal bathil, innal
batila kana zahaqu".
Ratu
Adil atau Satrio Piningit
Kita
mungkin dengan diam-diam atau bahkan dengan terbuka berharap kelak Bangsa
Indonesia akan dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki berbagai keutamaan
yang oleh kepercayaan masyarakat Jawa disebut "Ratu Adil" atau Satrio
Piningit.
Kelak
akan datang seorang "Ratu Adil" atau Satrio Piningit yang akan
membawa keadilan dan kesejahteraan serta mengangkat derajat dan martabat
manusia (versi Jayabaya). Akan muncul pemuda pilihan Tuhan dari tanah suci yang
menaklukkan bumi di seluruh bagian barat dan timur (versi Nostradamus). Akan
hadir keturunan Nabi yang nama dan gelarnya seperti Nabi yang menerangi bumi
dengan keadilan. Kerajaannya menyerupai Nabi Sulaiman dan Iskandar Zulkarnain
(versi Hadeis).
Sifatnya
yang lemah lembut, penuh perasaan, dan kasih sayang layaknya seorang ratu yang
memerintah. Sifatnya yang juga adil dalam menjalankan hukum dan persamaan
derajat membuat dia disebut sebagai "Ratu Adil" karena dia adalah
keadilan itu sendiri.
Istilah
"Ratu Adil" atau Satrio Piningit baru dikenal pada zaman pujangga
Kraton Mataram di Surakarta. Pada sekitar tahun 1830-1873 Masehi meskipun
sebelumnya telah ada Jangka Tanah Jawa yang merupakan mahakarya Prabu Sri
Jayabaya pada masa keemasannya di Kerajaan Kediri (1135-1157 M).
Prabu
Sri Jayabaya menyebut dalam ramalannya: "marga sirapih, rawuhnya, nata
ginaib sanyata, wiji sijilane utama, ingapuran naranata, kang kapisan, karanya,
adenge tanpa sarana, nagdom, makduming srinata, sonya rutikedannya".
Artinya: kedatangan pemimpin baru tidak terduga. Seperti muncul secara gaib dan
mempunyai sifat-sifat utama.
Munculnya
yang tidak terduga dan sifat-sifat keutamaan pemimpin baru yang dalam Jangka
Tanah Jawa Jayabaya diyakini akan mengakhiri zaman "Kolo Bendhu".
Besar kemungkinan oleh R Ng Ronggowarsito dicoba untuk dihadirkan sosoknya
secara lebih jelas dengan mengartikannya sebagai "Ratu Adil" atau
Satrio Piningit dengan berbagai sifat-sifat keutamaannya.
Segala
sifat adil "Ratu Adil" atau Satrio Piningit yang berarti satria yang
masih tersembunyi itu digambarkan oleh R Ng Ronggowarsito sebagai tunjung putih
semune pudhak sinumpet. Artinya, tokoh yang masih suci bagaikan bunga teratai
putih yang harum semerbak laksana bunga pandan yang tersembunyi di kelebatan
daunnya.
"Ratu
Adil" atau Satrio Piningit sebagaimana dimaksud dalam Jangka Tanah Jawa
Prabu Sri Jayabaya --R Ng Ronggowarsito tersebut digambarkan serba sempurna.
Keadilan dan kebijaksanaannya bisa diterima semua kalangan. Seperti tersirat
pada penjelasan R Ng Ronggowarsito berikutnya: "wadya punggawa sujud
sadya, tur padha rena prentahe". Artinya, rakyat dan para pembesar dengan
senang hati menerima segala keputusannya dan tunduk terhadap perintahnya.
R Ng
Ronggowarsito mempertegas lagi dengan mengatakan, "Ratu Adil" atau
Satrio Piningit itu tak membebani kehidupan rakyatnya. Sebagaimana tersurat
pada bait ramalan selanjutnya, "wong deso iku wedale kang duwe pajak sewu
pan sinuda dening narpati mung metu satus dinar". Artinya, pajak yang
dibebankan kepada rakyat dikurangi dari seribu menjadi hanya seratus dinar.
"Ratu
Adil" atau Satrio Piningit diramalkan akan muncul secara tak terduga
ketika zaman dalam keadaan kacau atau zaman "Kolo Bendhu", dan
membuka zaman baru, "Kolo Subo". Ramalan ini telah pula disebutkan
dalam Jangka Tanah Jawa Prabu Sri Jayabaya dalam bait "saking marmaning
Hyang Sukma, zaman kolobendhu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan
nata, ing kono raharjaniro, karaton ing Tanah Jawa mamalaning bumi sirna, sirep
dur angkara murka". Artinya: atas kehendak Tuhan, zaman kolobendhu hilang
berganti zaman kemakmuran, hilang kutukan bumi dan angkara murka mereda. R Ng
Ronggowarsito menyebut zaman Kolo Bendhu dengan zaman edan dalam serat kalatidha.
Bagi yang berminat pada buku SATRIO PININGIT; Menanti Sosok Ratu Adil Menuju Zaman Keemasan Nusantara, kami
melayani paket order. silahkan hubungi no. kontak 085756777030
Selamat membaca..
 |
SATRIO PININGIT; Menanti Sosok Ratu Adil Menuju Zaman Keemasan Nusantara
Rp 49.900
PEMESANAN
085756777030
| Judul |
SATRIO PININGIT; Menanti Sosok Ratu Adil Menuju Zaman Keemasan Nusantara
|
| No. ISBN |
9789791683821
|
| Penulis | Djoko Su'ud Sukahar |
| Penerbit | Narasi |
| Tanggal terbit | April 2014 |
| Jumlah Halaman |
|
| Berat Buku |
|
| Jenis Cover | Soft Cover |
| Dimensi(L x P) |
|
| Kategori | Seri Ramalan Sang Pujangga Nusantara |
| Bonus | - |
| Text Bahasa | Indonesia |
|
Sinopsis
Sebagian masyarakat
Indonesia meyakini bahwa "Ratu Adil" atau Satrio Piningit ialah sosok
pemimpin yang mampu membawa Nusantara atau Bangsa Indonesia menuju negara yang
gemah ripah loh jinawi toto tentrem kertoraharjo (kaya sumber daya alam dan
subur, aman, tentram, dan sejahtera). Bung Karno Sang Proklamator Bangsa
Indonesia pun di suatu kesempatan pernah menyatakan bahwa, kelak suatu saat
nanti Bangsa Indonesia akan dipimpin oleh seorang "Ratu Adil" atau
Satrio Piningit yang mampu membawa Bangsa Indonesia menuju zaman keemasan.
"Tuan-tuan
Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya
"Ratu Adil". Apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini
masih terus menyalakan harapan rakyat? Tak lain ialah karena hati rakyat yang
menangis itu tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan, datangnya
pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan tak berhenti-berhentinya
menunggu-nunggu dan mengharap-harap. "Kapan, kapankah matahari
terbit?" (Soekarno, 1930), dalam bukunya Indonesia Menggugat.
Bila
mengikuti alur ramalan Prabu Sri Jayabaya tentang keadaan Nusantara, di suatu
masa di masa datang, akan ada suatu masa yang penuh bencana. Gunung-gunung akan
meletus, bumi berguncang-guncang, laut dan sungai akan meluap. Ini akan menjadi
masa penuh penderitaan. Masa kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian. Masa
orang-orang licik berkuasa, dan orang-orang baik akan tertindas.
Tetapi,
setelah masa yang paling berat itu akan datang zaman baru. Zaman yang penuh
kemegahan dan kemuliaan. Zaman keemasan nusantara. Dan, zaman baru itu akan
datang setelah datangnya sang "Ratu Adil" atau Satrio Piningit.
Banyaknya
berbagai bencana dan persoalan bangsa Indonesia yang datang dan pergi silih
berganti apakah pertanda bahwa bangsa Indonesia tengah memasuki suatu masa yang
disebut zaman "Kala Bendhu". Suatu zaman yang digambarkan dengan
kekacauan dan pengrusakan yang demikian dahsyat. Kedahsyatan itu sering pula
dinamakan dengan masa "Goro-goro" yang digambarkan dengan "bumi
gonjang-ganjing langit kelap-kelap", bumi mengalami kegoncangan yang
dahsyat hingga langit menjadi tergetar.
Suatu
masa yang disebut zaman "Kala Bendhu" atau "Goro-goro" ini
sebagai awal akan datangnya suatu zaman keemasan dengan datangnya seorang
pemimpin yang disebut "Ratu Adil" atau Satrio Piningit. Membawa Bumi
Nuswantoro atau Musantara ke masa kejayaan, di mana kebenaran akan jaya:
"suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti" atau "semua
angkara murka atau tindak kejahatan akan kalah dengan keluhuran budi", dan
dalam terminologi Islam disebut: "idza jaal haqqu wazahaqal bathil, innal
batila kana zahaqu".
Ratu
Adil atau Satrio Piningit
Kita
mungkin dengan diam-diam atau bahkan dengan terbuka berharap kelak Bangsa
Indonesia akan dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki berbagai keutamaan
yang oleh kepercayaan masyarakat Jawa disebut "Ratu Adil" atau Satrio
Piningit.
Kelak
akan datang seorang "Ratu Adil" atau Satrio Piningit yang akan
membawa keadilan dan kesejahteraan serta mengangkat derajat dan martabat
manusia (versi Jayabaya). Akan muncul pemuda pilihan Tuhan dari tanah suci yang
menaklukkan bumi di seluruh bagian barat dan timur (versi Nostradamus). Akan
hadir keturunan Nabi yang nama dan gelarnya seperti Nabi yang menerangi bumi
dengan keadilan. Kerajaannya menyerupai Nabi Sulaiman dan Iskandar Zulkarnain
(versi Hadeis).
Sifatnya
yang lemah lembut, penuh perasaan, dan kasih sayang layaknya seorang ratu yang
memerintah. Sifatnya yang juga adil dalam menjalankan hukum dan persamaan
derajat membuat dia disebut sebagai "Ratu Adil" karena dia adalah
keadilan itu sendiri.
Istilah
"Ratu Adil" atau Satrio Piningit baru dikenal pada zaman pujangga
Kraton Mataram di Surakarta. Pada sekitar tahun 1830-1873 Masehi meskipun
sebelumnya telah ada Jangka Tanah Jawa yang merupakan mahakarya Prabu Sri
Jayabaya pada masa keemasannya di Kerajaan Kediri (1135-1157 M).
Prabu
Sri Jayabaya menyebut dalam ramalannya: "marga sirapih, rawuhnya, nata
ginaib sanyata, wiji sijilane utama, ingapuran naranata, kang kapisan, karanya,
adenge tanpa sarana, nagdom, makduming srinata, sonya rutikedannya".
Artinya: kedatangan pemimpin baru tidak terduga. Seperti muncul secara gaib dan
mempunyai sifat-sifat utama.
Munculnya
yang tidak terduga dan sifat-sifat keutamaan pemimpin baru yang dalam Jangka
Tanah Jawa Jayabaya diyakini akan mengakhiri zaman "Kolo Bendhu".
Besar kemungkinan oleh R Ng Ronggowarsito dicoba untuk dihadirkan sosoknya
secara lebih jelas dengan mengartikannya sebagai "Ratu Adil" atau
Satrio Piningit dengan berbagai sifat-sifat keutamaannya.
Segala
sifat adil "Ratu Adil" atau Satrio Piningit yang berarti satria yang
masih tersembunyi itu digambarkan oleh R Ng Ronggowarsito sebagai tunjung putih
semune pudhak sinumpet. Artinya, tokoh yang masih suci bagaikan bunga teratai
putih yang harum semerbak laksana bunga pandan yang tersembunyi di kelebatan
daunnya.
"Ratu
Adil" atau Satrio Piningit sebagaimana dimaksud dalam Jangka Tanah Jawa
Prabu Sri Jayabaya --R Ng Ronggowarsito tersebut digambarkan serba sempurna.
Keadilan dan kebijaksanaannya bisa diterima semua kalangan. Seperti tersirat
pada penjelasan R Ng Ronggowarsito berikutnya: "wadya punggawa sujud
sadya, tur padha rena prentahe". Artinya, rakyat dan para pembesar dengan
senang hati menerima segala keputusannya dan tunduk terhadap perintahnya.
R Ng
Ronggowarsito mempertegas lagi dengan mengatakan, "Ratu Adil" atau
Satrio Piningit itu tak membebani kehidupan rakyatnya. Sebagaimana tersurat
pada bait ramalan selanjutnya, "wong deso iku wedale kang duwe pajak sewu
pan sinuda dening narpati mung metu satus dinar". Artinya, pajak yang
dibebankan kepada rakyat dikurangi dari seribu menjadi hanya seratus dinar.
"Ratu
Adil" atau Satrio Piningit diramalkan akan muncul secara tak terduga
ketika zaman dalam keadaan kacau atau zaman "Kolo Bendhu", dan
membuka zaman baru, "Kolo Subo". Ramalan ini telah pula disebutkan
dalam Jangka Tanah Jawa Prabu Sri Jayabaya dalam bait "saking marmaning
Hyang Sukma, zaman kolobendhu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan
nata, ing kono raharjaniro, karaton ing Tanah Jawa mamalaning bumi sirna, sirep
dur angkara murka". Artinya: atas kehendak Tuhan, zaman kolobendhu hilang
berganti zaman kemakmuran, hilang kutukan bumi dan angkara murka mereda. R Ng
Ronggowarsito menyebut zaman Kolo Bendhu dengan zaman edan dalam serat kalatidha.
Bagi yang berminat pada buku SATRIO PININGIT; Menanti Sosok Ratu Adil Menuju Zaman Keemasan Nusantara, kami
melayani paket order. silahkan hubungi no. kontak 085756777030
Selamat membaca..